Latest Entries »

SONET XVII

….

I love you without knowing how, or when, or from where.

I love you straightforwardly, without complexities or pride;

I love you because I know no other way

than this: where I do not exist, nor you,

so close that your hand on my chest is my hand,

so close that when you close your eyes, I fall asleep.

::Pablo Neruda::

….

Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana,

kapan, atau dari mana muasalnya.

Aku mencintaimu begitu saja, tanpa kerumitan atau kebanggaan;

Aku mencintaimu karna yang ku tahu tidak ada jalan lain

selain ini:

aku tak ada, kau pun tiada,

begitu dekat, saat tanganmu di dadaku adalah tanganku,

begitu dekat, hingga saat kau pejamkan matamu,

aku pun jatuh terlelap.

Puisi oleh:

::Pablo Neruda::

-;diterjemahkan oleh Ranu, dengan beberapa penyesuaian;-

Menyesapi jalan sepi para pejuang

Aku mulai memahami laku sunyi

penyuluh sejati itu,

Dan mulai menikmatinya,

membangun Taman Asoka ini sendiri……

Tiba-tiba aku rindu padaMu, Allah-ku,

Maha Cinta-ku,

akan sebelah jiwa yang juga

memanggilMu: Cinta.

::RANU::

~Taman Asoka, 4 Ramadhan 1430~

Pulang ke Hatimu


Telah letih langkahku dan terasa berat
cukup banyak kesalahan kubuat
dimimpiku ku dengar bunyi suaramu
yang memanggilku pulang ke dalam hatimu
karena hanyalah hatimu
rumah terindah

Ku kan pulang tunggu aku didepan pintumu
cintamu padaku tuntun jalan ku

Telah letih jalanku dan terasa berat
Ku kan pulang ke hatimu rumah terindah
Ku pulang ke hatimu
Rumah terindah

Telah letih langkahku dan terasa berat
cukup banyak kesalahan kubuat
dimimpiku ku dengar bunyi suaramu
yang memanggilku pulang ke dalam hatimu
karena hanyalah hatimu
rumah terindah

(dipopulerkan oleh Shera, Ost. 9 Naga)

http://www.4shared.com/audio/3ulQq5Qo/Pulang_Ke_hatimu_OST9_Naga.htm

Kereta Ini

Kereta Ini

Kereta ini meliuk dengan anggun
Mengular, melengkung
… rel-rel menikung
senja yang basah di Brug Sakalimalas.

Kaca jendelanya basah,
Menempel bulir bulir air,
merekam gerimis di luar sana.

Bagi pemilik sayu itu,
senja ini menjelma jadi kelabu,
gerimis yang seketika sendu dan warna abu.

Dipalingkan wajahnya keluar jendela,
memandang lekat cakrawala..
tak ingin punya nama atas bulir bening di pipinya.

Samar, berbayang wajahnya di kaca,
memandang lekat cakrawala..
seolah ingin menyeberangkan air matanya ke luar jendela.

::RANU::
-2010-

Tanda

Takdir itu..
menunggu.

Aku sudah mengetuk banyak pintu.
Berlelaku yang bukan lagi mili, tapi
puluhan bahkan ratusan kilo.

Semua demi sebuah tanda.
Ya.., sebuah tanda.

..bahwa aku ada..
..di sini

daun dan malam

Lampu, jangan lagi nyala malam ini!

Kali ini saja…

Biar sepotong bulan temaniku,

dan sengal batuk ini yang senantiasa

buatku terjaga.

Ah, aku rindu….

.:RANU:.

2009

Februari

senjaAku selalu suka langit sore bulan Februari.

Kalau tak lagi hujan, langit kan sempurna biru,

dan gurat-gurat tipis awan, putih berlarik-larik

abstrak melukis sembarang kisah yang

ingin kita maknai.

Lapis-lapis atmosphere seperti sedang berdamai

dengan hatiku, sempurna meramu

biru dan putih dalam harmoni abadi,

serenade sayup rindu ini hari.

Aku juga suka langit senja bulan Februari.

Dalam gradasi warna Cyan dan Magenta, langit

seperti punya cara mistis;

membuatku tanpa sadar menarik nafas panjang

berkali-kali. Meluruh hampa

yang selama ini bersemayam di dada.

Februari,

ada yang masih ingin ku kenang,

sebelum semua surut dan hilang…

.:RANU:.

Sembari teriring “U are Me, I am U” by Dave Koz

Akhir Februari 2010

Sehabis Hujan

Tak ada yang kekal di bumi
Semua kembali padaMu.
Tanah merah
Bayang-bayang pohonan
Serpihan bunga juga sehimpun doa
Angin bertiup berlahan
Sebuah ruang terasa sunyi di dada
Selebihnya sisa butiran airmata
Berkilat di punggung waktu!

.:Sapardi Djoko Damono:.

:.sehabis hujan

Ada Bening

ada bening mengalir

di sudut mataku

meski bukan darah

perihnya teramat sangat

**RANU: October ’07**

KETIKA KAU TAK ADA

Ketika kau tak ada
Masih tajam seru jam dinding itu
Jendela tetap seperti matamu
Nafas langit pun dalam dan biru

Hanya aku yang menjelma kata
Mendidih, menafsirkanmu

Kau mungkin jalanan menikung-nikung itu
Yang menjulur dari mimpi
Yang kini mesti kutempuh, sebelum sampai di muaramu
Sungguh tiadakah tempat berteduh di sini

Kalau tak ada di antara jajaran cemara itu
Kepada siapa mesti kucari jejak nafasmu?

Magrib begitu deras, ada yang terhempas
Tapi, ada goresan yang tak akan terkelupas

~:Sapardi Djoko Damono:~

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.