Category: Sajak Senja


Menyesapi jalan sepi para pejuang

Aku mulai memahami laku sunyi

penyuluh sejati itu,

Dan mulai menikmatinya,

membangun Taman Asoka ini sendiri……

Tiba-tiba aku rindu padaMu, Allah-ku,

Maha Cinta-ku,

akan sebelah jiwa yang juga

memanggilMu: Cinta.

::RANU::

~Taman Asoka, 4 Ramadhan 1430~

Kereta Ini

Kereta Ini

Kereta ini meliuk dengan anggun
Mengular, melengkung
… rel-rel menikung
senja yang basah di Brug Sakalimalas.

Kaca jendelanya basah,
Menempel bulir bulir air,
merekam gerimis di luar sana.

Bagi pemilik sayu itu,
senja ini menjelma jadi kelabu,
gerimis yang seketika sendu dan warna abu.

Dipalingkan wajahnya keluar jendela,
memandang lekat cakrawala..
tak ingin punya nama atas bulir bening di pipinya.

Samar, berbayang wajahnya di kaca,
memandang lekat cakrawala..
seolah ingin menyeberangkan air matanya ke luar jendela.

::RANU::
-2010-

Tanda

Takdir itu..
menunggu.

Aku sudah mengetuk banyak pintu.
Berlelaku yang bukan lagi mili, tapi
puluhan bahkan ratusan kilo.

Semua demi sebuah tanda.
Ya.., sebuah tanda.

..bahwa aku ada..
..di sini

daun dan malam

Lampu, jangan lagi nyala malam ini!

Kali ini saja…

Biar sepotong bulan temaniku,

dan sengal batuk ini yang senantiasa

buatku terjaga.

Ah, aku rindu….

.:RANU:.

2009

Februari

senjaAku selalu suka langit sore bulan Februari.

Kalau tak lagi hujan, langit kan sempurna biru,

dan gurat-gurat tipis awan, putih berlarik-larik

abstrak melukis sembarang kisah yang

ingin kita maknai.

Lapis-lapis atmosphere seperti sedang berdamai

dengan hatiku, sempurna meramu

biru dan putih dalam harmoni abadi,

serenade sayup rindu ini hari.

Aku juga suka langit senja bulan Februari.

Dalam gradasi warna Cyan dan Magenta, langit

seperti punya cara mistis;

membuatku tanpa sadar menarik nafas panjang

berkali-kali. Meluruh hampa

yang selama ini bersemayam di dada.

Februari,

ada yang masih ingin ku kenang,

sebelum semua surut dan hilang…

.:RANU:.

Sembari teriring “U are Me, I am U” by Dave Koz

Akhir Februari 2010

Ada Bening

ada bening mengalir

di sudut mataku

meski bukan darah

perihnya teramat sangat

**RANU: October ’07**

Hari Yang Biasa

Melalui hari yang biasa..
Nyaris tak ada yang istimewa..

Selain bahwa aku masih bernyawa,
menyesap segar udara tanpa harus memesannya.

Metabolisme tubuhku juga berjalan lancar,
darahku terus mengalir tanpa henti.

Aku diam pun, tiap detil tubuhku tetap bekerja tanpa jeda.
Tak ada alasan bagiku diam,
karna “tiap2 sendi ada sedekahnya”.

Karunia yg tiada henti kusyukuri:
bahwa aku dicipta ISTIMEWA, tanpa cela.

**RANU:2009**
Free Style Rock Climbing

Diamdiam (mmts-2)

Diam diam, aku
berharap lampu mati lagi malam ini
Lalu bersepakat dengan sepi,
biar gelap mau mendengar ceritaku
~ranu~

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.